Selasa, 08 Juni 2010

AQIDAH PENENTU KEPRIBADIAN

Aqidah berasal dari kata bahasa Arab aqada-ya’qidu. Arti¬nya apa yang diikat oleh hati.
Syaikh Taqiyuddin An Nab¬hani dalam kitab As-Syakhshiyyah Al Islamiyyah jilid I halaman 149 memaknai yang diikat disini seba¬gai sesuatu yang dipastikan oleh hati atau dibenarkan oleh hati se¬cara meyakinkan. Adapun perkara yang dibenarkan oleh hati tersebut mesti perkara yang mendasar (amrun asasi) dan perkara yang berkaitan dengannya. Pembenar¬an selain kedua perkara tersebut tidak dianggap sebagai aqidah. Alasannya adalah bahwa pembe¬naran pasti kepada perkara men¬dasar dan perkara yang berkaitan dengannya sajalah yang membe¬rikan bekas nyata kepada hati. Padahal hati adalah pusat segala keinginan manusia yang melahir¬kan berbagai aktivitas hidup. De¬ngan demikian aqidah yang mem¬bekas pada hati tersebut menjadi qaidah atau landasan bagi setiap gerak hati melahirkan keinginan.
Selanjutnya Nabhani mem¬berikan ta’rif (definisi) aqidah se¬bagai pemikiran yang menyeluruh tentang al-kaun (alam), al-insan (manusia) dan al-hayah (hidup) sebagai unsur-unsur pokok yang nyata di dunia; perkara sebelum di dunia dan sesudahnya; serta hu¬bungan antara perkara dunia dan perkara sebelum dan sesudahnya. Perkara-perkara tersebut adalah perkara yang paling mendasar bagi manusia. Tidak ada yang lebih mendasar dari hal itu. Se¬telah dibenarkan secara yakin oleh hati maka dia menjadi aqidah yang menjadi titik tolak dan pe¬nentu arah bagi seseorang untuk berpikir dan berbuat dalam rangka memenuhi kehendak hatinya.
Ta’arif tersebut bersifat umum. Jika ditarik benang merah¬nya dengan aqidah Islam adalah sebagai berikut. Aqidah Islam adalah Iman kepada Allah SWT, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, Iman kepa¬da Hari Akhir, Iman kepada Qadla dan Qadar yang baik dan buruk keduanya dari Allah SWT. Islam memandang bahwa dibalik tiap sesuatu yang ada di dunia ini baik itu al-insaan, al-kaun maupun al-hayah adalah Allah SWT sebagai khaliqnya. Dan setiap sesuatu ter¬sebut adalah Makhluq-Nya. Oleh karena itu, apa yang ada sebelum di dunia adalah Allah Al-Khaliq yang ada sebelum adanya dunia seisinya dan tetap ada setelah hancurnya dunia seisinya sebagai¬mana firman-Nya:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِن

“Dialah yang Awal dan yang Akhir, dan yang tampak dan yang ter¬sembunyi…” (QS Al Hadid: 3).

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Tiap-tiap sesuatu akan hancur kecuali Allah” (QS Al-Qashash: 88).

Secara Aqli, eksistensi Allah sebagai Al-Khaliq dapat dipastikan dengan memahami keberadaan al-kaun, al-insan dan al hayah. Oleh karena itu, Allah SWT di¬sebut Az-Zhahir. Namun Allah adalah Al-Bathin, yang tersembu¬nyi zat-Nya karena tidak dapat dijangkau oleh pancaindera ma¬nusia. Sebagaiman firman Allah:

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ

“Dia tidak dapat dijangkau oleh pengelihatan manusia, tetapi Dia¬lah yang menjangkau pengeli¬hatan tersebut” (QS Al An’am 103).

Allah SWT memperkenalkan diri-Nya kepada manusia sebagai Al-Khaliq dengan menurunkan wahyu (diantaranya melalui Malai¬kat-Nya) kepada Rasul-Nya. Kum¬pulan wahyu yang suci disebut Kitabullah yang memberitahu ke¬pada manusia tentang keberada¬an Al-Khaliq dan segala kekuasa¬an-Nya atas seluruh alam, tata aturan yang diberikan baik bersifat paksaan (Nizham Al Wujud) mau¬pun pilihan (Nizham Al hayat/¬Syariat), perjalanan setelah dunia kembali kehadirat-Nya. Oleh ka¬rena itu, hubungan dunia de¬ngan sebelumnya adalah ikhwal pen¬ciptaan dan tata aturan yang ber¬laku bagi ciptaan itu.
Sedangkan hubungan dunia dengan sesudahnya adalah kesu¬dahan tiap sesuatu setelah han¬curnya dunia dimana manusia akan dibangkitkan dan akan dihi¬sab amal perbuatannya dari segi ketundukannya terhadap tata atu¬ran yang diberikan oleh Allah SWT. Dia berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagaimana kalian bisa kafir terhadap Allah SWT, sedang kalian dulunya mati, maka Allah SWT menghidupkan kamu, kemu¬dian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu lagi, kemu¬dian kamu akan kembali kepada-Nya” (QS Al-Baqarah: 28).

Manusia yang mengerti, hati¬nya membenarkan pemikiran ter¬sebut secara yakin. Hatinya meng¬ikat aqidah Islamiyah. Sehingga hatinya senantiasa bertanya kepa¬da Islam bagaimana cara menja¬lani hidup yang selaras dengan pandangan tersebut. Tidaklah ia berpikir kecuali tentang hal-hal yang dituntut oleh Islam untuk memikirkan-nya. Sehingga ia me¬lapisi dirinya dengan pemikiran-pemikiran yang bersumber dari Islam. Sebab, dia yakin bahwa pemikiran-pemikiran itulah yang sesuai dengan pandangan hidup¬nya dan menyelamatkan dirinya pada perjalanan hidup ini.
Dia akan menolak tiap pemi¬kiran yang tidak bersumber dari aqidah Islam buat tuntunan hidup¬nya, karena ia memahami bahwa pemikiran tersebut akan menyim¬pang dari jalan Islam dan akan mencelakakan perjalanan hidup¬nya. Semakin banyak dan rinci pemikiran Islam yang dia miliki semakin peka dirinya terhadap pemikiran-pemikiran dari luar Is¬lam. Pemahaman terhadap aqidah Islam ini akan menjadi penyaring setiap pemikiran yang dihadapi¬nya.
Demikian juga ketika ia hen¬dak berbuat sesuatu guna memu¬askan keinginan hatinya. Dia se¬nantiasa bertanya kepada Islam, apakah perbuatan yang akan dila¬kukan tersebut dibenarkan oleh Is¬lam dan diridlai Allah SWT atau tidak. Tidaklah ia minum, kecuali bertanya apakah minuman itu halal atau haram dalam penda¬ngan Islam. Juga, ketika ia sadar bahwa dirinya seorang pria yang membutuhkan seorang wanita se¬bagai teman hidup, maka dia ti¬daklah mendekatinya kecuali sete¬lah memahami cara pendekatan menurut Islam. Dia tidak akan menyentuh seorang wanita beta¬papun cantiknya, sebelum halal baginya. Diapun tidak akan memi¬lih pekerjaan buat penghidupan¬nya sebelum jelas halal-haram nya menurut Islam.
Demikianlah gambaran ma¬nusia yang hatinya telah mengikat aqidah Islam. Kepribadiannya di¬bentuk dan diwarnai oleh aqidah Islam. Aqidah Islamiyyah telah menjadi azas hidupnya, hingga setiap aktivitas hatinya, kibasan tangannya, ayunan langkah kaki¬nya, gerak-gerik bola matanya, maupun getaran pita suaranya se¬nantiasa dia sadari mendapat per¬hatian dari Allah SWT. Ia menya¬dari bahwa dirinya senantiasa da¬lam hubungan dengan Allah SWT yang menghidupkan dan memati¬kannya kelak. Pribadi semacam ini tidak akan gegabah menyatakan bahwa keanekaragaman jagat raya ini merupakan hasil proses evolusi yang panjang, yang terjadi secara alami dan otomatis walau¬pun banyak para sarjana dan ilmuwan yang mempercayai hal ini. Ia pun tidak gampang percaya dengan dongeng akademis yang mengisahkan sejarah manusia yang asal-usulnya berasal dari kera dengan hanya melihat keke¬rabatan struktur tubuh manusia dengan kera sebagaimana Teori Evolusi Darwin. Pribadi yang ba¬tinnya telah mengikat aqidah Islam tidak akan puas akalnya sebelum bertanya bagaimana pandangan Islam tentang hal ini. Dia sadar firman Allah SWT:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam dari tanah, ke¬mudian Allah berfirman kepada¬nya ‘Jadilah!’ (Seorang manusia) ‘Maka jadilah ia’”. (QS Ali Imran: 59).

Pribadi yang demikian tentu berbeda dengan pribadi-pribadi yang hatinya mangikat kaidah komunis. Pribadi-pribadi pemeluk faham komunisme-materialisme secara mudah segera meyakini teori-teori yang dibangun dari penarikan-penarikan kesimpulan dari beberapa fakta empiris. Wa¬laupun dipaksakan. Yang penting, teori itu didukung riset ilmiah.
Seorang yang mengimani aqidah Islam wajib mengikatkan dirinya dengan Syari’at Islam. Sebab, ia memahami dirinya akan kembali ke akhirat dan dihisab seluruh perbuatannya, sebagai¬mana firman Allah SWT:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“Tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggung jawaban atas per-buatannya”. (QS Al Mudatsir: 38).

Oleh karena itu, dia senan-tiasa mengikuti apa yang diperin¬tahkan Rasulullah dan mencegah diri dari perbuatan yang dilarang¬nya sebagai jawabannya atas firman Allah:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa-apa yang didatangkan oleh Rasulullah ambillah, dan apa-apa yang dilarang berhentilah” (QS Al Hasyr: 7).

Pribadi yang mengimani Is¬lam ini memahami bahwa Allah membebaskan ia berbuat apa saja yang ia sukai. Namun ia mengerti bahwa Dia memberi petunjuk jenis-jenis perbuatan yang mas¬lahat baginya sehingga syari’at Islam membolehkan, merangsang, bahkan menekan untuk melaku¬kannya. Ia mengerti bahwa Allah memberi petunjuk jenis-jenis per¬buatan yang akan merusak dirinya sehingga dengan tegas syari’at melarangnya. Jadi kebebasannya berada di dalam daerah yang dibatasi syara’.
Pribadi yang demikian tentu berbeda dari pribadi yang meng¬ikat aqidah kapitalis yang seku¬leris, yaitu yang hatinya membe¬narkan secara yakin pemikiran pemisahan agama dari kehidupan yang muncul bersama-an dengan aqidah komunis materialis. Aqidah kapitalis sekuleris ini muncul sebagai jalan tengah pertentangan antara kelompok intelektual de¬ngan kelompok gereja. Pribadi yang sekuleris menganut pema¬haman bahwa manusia bebas melakukan apa saja. Bebas berke¬yakinan, bebas berpikir, beba ber¬sikap, bebas berbuat, bebas me¬miliki, bebas berbicara, bebas ber¬politik, dan lain-lain.
Pribadi-pribadi kapitalis ini menolak tatanan gereja dan ta¬tanan manapun yang berbau aga¬ma dalam kehidupan masyarakat. Mereka telah memenjara agama digereja-gereja, kuil-kuil dan mas¬jid-masjid. Mereka mengharamkan agama memasuki arena kehidu¬pan. Mereka membatasi penger¬tian agama (religion) sebagai se¬perangkat upacara ritual dan sedikit budi pekerti. Mereka selalu mengucapkan agama itu adalah urusan pribadi dengan Tuhannya. Sedangkan urusan pribadi dengan pribadi lainnya di masyarakat ter¬masuk wilayah masyarakat. Jika suatu aturan dikehendaki dan di¬sepakati masyarakat, itulah hukum yang berlaku, meskipun berten¬tangan dengan aturan agama. Jika aturan tersebut dianggap tidak relevan lagi, dicabutlah kepu¬tusan tersebut.
Sebagai contoh, pemerintah Australia terpaksa membangun kolam renang khusus bagi para wanita yang tidak mau pakai baju renang (nudis) dalam rangka me¬menuhi kebutuhan kebebasan yang diperdebatkan sebelumnya, karena terjadi konflik antara wa¬nita yang pro baju renang dengan wanita yang anti.
Debat di majelis rendah parlemen inggris sekitar tahun 1988 bagitu panas dalam mem¬bahas RUU pembatasan gerak para kaum homoseks dan les¬bian.
Kelompok penentang RUU mengatakan, apakah mereka akan memper-hatikan aturan-aturan ge¬reja yang kuno itu ataukah kem¬bali kepada kebebasan modern yang selama ini mereka per¬juangkan?.
Tentu berbeda warna kepri¬badian seorang yang mengontrol dirinya dengan hukum-hukum Syara’ dari orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dengan dalih kebebasan pribadi. Di satu pihak, pribadi muslim ber¬buat atas dasar halal dan haram dikarenakan takut kepada Allah SWT serta mengaharap keridloan-Nya. Di pihak lain, pribadi kapitalis sekuleris menganut prinsip serba boleh karena manusia itu bebas berkehendak dan berbuat. Di sisi lain, pribadi komunis tidaklah berbuat kecuali perbuatan itu direstui oleh negara. Halal-haram nya orang sosisalis materialis adalah apa yang dihalalkan dan diharamkan peraturan oleh negara yang dibuat oleh segelentir orang dalam politik biro partai komunis.
Aqidah yang shahih akan melahirkan pribadi-pribadi yang berwarna khas: cinta kebenaran dan keselamatan. Aqidah yang rusak akan melahir-kan pribadi-pribadi pembuat kerusakan dimu¬ka bumi ini. Inilah barangkali mak¬sud hadits Arba’in nomor enam:
“…Ingatlah, bahwa didalam jasad itu ada sekerat daging. Jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya. Dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah, daging itu adalah hati”.
Jadi, jika hati itu mengikat aqidah yang baik, maka baik seluruh jasadnya. Dan jika hati itu mengikat aqidah yang rusak, maka rusaklah seluruh jasad manusia. Wallaahu a’lam !.(Ir. H. Muhammmad Al Khaththath, Direktur PSKII Bogor).
MUTIARA HIKMAH
Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, Dia akan menjadikan orang itu faqih dalam hal agama. (HR. Bukhari).


KHAZANAH
WALI-WALI ALLAH:
Memerangi Wali-wali syaithan

الَّذِينَ ءَامَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ
فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

"Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah".
(QS. An Nisa [4]: 76).


Orang-orang beriman sebagai wali-wali Allah (QS. Al Baqoroh 257). berperang di jalan Allah SWT dan diperintahkan untuk memerangi wali-wali syaithan yang tidak lain adalah orang-orang kafir. Kenapa wali-wali syaithan itu diperangi? Sebab mereka berperang dijalan thaghut. Memerangi orang-orang mukmin. Dalam Tafsir Jalalain disebut bahwa thaghut dalam ayat itu maksudnya adalah syaithan.
Kenapa mereka berperang di jalan syaithan? Sebab mereka telah menjadikan syaithan sebagai wali mereka. Allah SWT berfirman:

إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ

"Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. Al A’raf 30).

Syaithan mendorong mereka untuk senantiasa membenci, memusuhi, dan memerangi kaum muslimin dan berusaha mengembalikan kaum muslimin kepada kekufuran(lihat QS. Al Baqoroh 217).
Namun petunjuk dan dorongahn syaithan adalah tipuan belaka. Ini seperti yang terjadi pada perang Badr dimana syaithan telah mem¬bisikkan kemenangan kepada para walinya yakni kaum musyrikin Quraisy. Namun kemudian berpaling. Imam Al Qurthubi menerangkan hal itu dengan mengutip firman-Nya:

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: "Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu". Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata… (QS. Al Anfal 48).

Oleh karena itu, menurut Imam Ibnu Katsir Allah SWT mendorong para walinya memerangi wali syaithan itu. Sebab tipudaya dan makar syaithan maupun para walinya sangat lemah dibanding apa yang dibuat oleh kaum muslimin waliyullah yang dibacking oleh Allah SWT (MA).

أَلآ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. Yunus [10]: 62).

Jelas para wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya sebagaimana dijelaskan pada ayat berikutnya (QS. Yusuf 63). Juga dalam ayat lain (QS. Al Baqarah [2]:257, dan QS. Al Jatsiyah [45]: 19).
Dua sifat yang paling menonjol pada mereka adalah tidak punya rasa khawatir (laa khauf) dan tidak bersedih hati (laa yah¬zanuun). Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, mereka ti¬dak khawatir terhadap berbagai kesulitan di akhirat. Juga tidak se¬dih terhadap masa depannya di dunia. Ibnu Ktasir mengutip hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. yang berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang membuat para Nabi dan Syuhada ingin seperti keadaan mereka”. Ditanyakan kepada rasul: “Siapakah mereka wahai Rasulullah, se¬moga kami bisa mencintai mereka?”. Beliau saw. menjawab: “Me¬reka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena harta dan keturunan, wajah-wajah mereka bercahaya di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, mereka tidak kha¬watir kala manusia-manusia khawatir, dan mereka tidak bersedih hati kala manusia-manusia pada bersedih”. Lalu Rasulullah saw. membaca ayat di atas (HR. Al Bazzar).
Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menyebut bahwa me¬reka tidak takut di akhirat dan tidak sedih kehilangan dunia karena Allah menjadi wali mereka. Beliau mengutip bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: Sesungguhnya wali-wali Allah itu adalah yang kuning (pucat) wajahnya karena kurang tidur, kempis perutnya karena lapar, dan kering bibirnya karena layu.
Dalam QS. Al Ahqaf 13 dan QS. Fushilat 30 disebut me¬reka itu adalah orang-orang yang konsisten atau istiqomah dengan keimanan mereka dengan segala konsekuensinya. Dalam QS. At Taubah 71 disebut mereka itu satu sama lain saling kompak dan bersatu dalam menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan demikian mereka adalah orang-orang mukmin, yang bertaqwa dan istiqomah dalam menjalankan hidup sebagai muslim secara individual maupun kolektif (MA).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar