Seorang bapak bercerita bahwa ia tidak mau menyekolahkan anaknya di sekolah Kris¬ten. Alasan yang diungkapkannya ia takut anaknya ‘tercemari’ kekufuran. Takut semacam ini merupakan takut yang pada tempatnya. Sebab, sekolah Kristen itu secara halus hingga terbuka mengikis ‘aqidah anak didiknya yang muslim. Pendidikan agama Islam tidak diberikan; acara-acara yang diselenggarakan sarat dengan nilai Kristen; proses mengajar-belajar didasari tata cara mereka. Andai saja bapak tadi tidak merasa takut akan pengikisan ‘aqidah Islam anaknya, orang akan bertanya ‘Dimana tanggung jawab dia?’ Padahal Allah SWT menegaskan dalam An Nisâ [4] ayat 9 : “Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka ber¬taqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” Jadi, takut anak lemah mentalnya, jiwanya, fisiknya, terlebih lagi lemah ‘aqidah dan keterikatannya terha¬dap hukum Allah SWT merupa¬kan perkara wajar, bahkan harus.
Demikian halnya dengan takut umat Islam ditimpa bahaya. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat mengkhawatirkan umatnya ditimpa marabahaya. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian tetapi aku khawatir kalau-kalau keka¬yaan dunia ini dihamparkan atas kalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian. Lantas, kalian akan berlomba-lomba pada kekayaan sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba pada keka¬yaan. Kemudian, kekayaan itu akan membinasakan kalian sebagaimana kekayaan itu membi¬nasakan mereka.” Inilah teladan dari Rasulullah SAW.
Karenanya, wajar bila setiap muslim merasa khawatir terhadap persekongkolan penguasa munafik-negara kafir imperialis, kebebasan pers yang semakin memerosokkan generasi umat ke jurang kemaksiatan, kristenisasi yang terus menggerus keimanan, perusahaan-perusahaan asing yang terus menguras kekayaan, perjanjian-perjanjian militer antara negeri muslim dengan negara besar kafir yang justru menjadi jalan untuk menekan kaum muslim, pembantaian Israel terhadap kaum muslim di Palestina, renca¬na penggempuran imperialis AS terhadap muslim dan negeri Islam Afghanistan, dan setumpuk bahaya lain. Kekhawatiran itu akan mendorong kaum muslim untuk senantiasa waspada ter¬hadap hal-hal yang membahayakan mereka, disamping terus-menerus berupaya mengatasi nya.
Takut Pada Allah SWT Pemacu Keberanian
Suatu waktu Abu Uma¬mah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahiliy ra.menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah melebihi dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang menetes sewaktu berjuang pada jalan Allah. Adapun dua bekas yaitu bekas (luka) sewaktu berjuang di jalan Allah dan bekas dari menjalankan salah satu kewajiban Allah Ta’ala.” Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Turmudzi tersebut nampak bahwa Allah SWT mense¬jajarkan antara takut kepada Allah SWT dengan jihad di jalan Allah SWT. Ini menunjukkan be¬tapa rasa takut kepada Allah Dzat Maha Perkasa tersebut memiliki kedudukan yang demi¬kian tinggi.
Saking pentingnya takut kepada Allah tersebut, Rasulullah SAW menyatakan : “Seseo¬rang yang menangis karena takut kepada Allah itu tidak akan masuk neraka hingga air susu itu kembali ke dalam tetek. Dan debu yang menempel karena berjuang pada jalan Allah itu tidak akan bisa berkumpul de¬ngan asap neraka jahannam”(HR.At Turmudzi). Terang sekali, balasan mereka yang takut kepada Allah SWT itu adalah tidak akan pernah masuk neraka. Adanya pernyataan kemustahilan (masuknya kembali air susu ibu kedalam tetek ibu, atau susu sapi kedalam tetek sapi) menegaskan hal tersebut. Al Quran sendiri banyak memerintahkan manusia untuk takut kepada Allah SWT. Misalnya, firman Allah Dzat Maha Gagah tentang dorongan bagi kaum muslimin untuk tidak gen¬tar terhadap musuh terdapat dalam surat Ali ‘Imrân [3] ayat 175. Bahasa Indonesianya : “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu ja¬nganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
Sementara itu realisasi dari sikap takut kepada Allah SWT tersebut adalah tunduk dan patuh kepada-Nya. Berkaitan dengan konteks ini, Al Quran menggambarkan:
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah (khâsyi’an mutashaddi’an) disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya berfikir” (TQS. Al Hasyr [59] : 21). Seorang muslim yang takut kepada Allah SWT akan senantiasa membandingkan takut kepada selain Allah SWT dengan takut kepada-Nya. Dan, dia lebih takut kepada-Nya. Bukan seperti orang munafik yang takut kepada manusia sama dengan takutnya kepada Allah Rabbul ‘Alamîn, atau melebihinya. “Tidakkah eng¬kau perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. Mereka berkata : ‘Ya, Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan ber¬perang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan hal itu kepada kami beberapa waktu lagi?‘..” begitulah firman-Nya dalam surat An Nisâ [4] ayat 77.
Karena itu, seorang muslim yang sadar akan senantiasa lebih takut kepada Allah SWT daripada kepada yang lain. Caranya, lebih mengutamakan perintah Allah Dzat Maha Perkasa. Tidaklah mengherankan apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Saat berhijrah, mereka harus meninggalkan harta kekayaan, anak saudara, bahkan kampung halaman tercinta. Perjalanan yang harus dilaluinya pun bukanlah daerah yang aman, melainkan penuh dengan tindak perampokan dan kejahatan lainnya. Jarak yang harus ditempuhnya pun bukan satu-dua hari. Sengatan terik matahari, dinginnya malam, dan tiupan angin kencang pembawa pasir menanti di perjalanan. Sementara itu, orang-orang kafir Quraisy siap mengejar dari belakang. Wajar, andai saja para sahabat (laki-laki dan perempuan) dan anak-anaknya merasakan takut. Mereka adalah manusia biasa seperti kita. Namun, semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan ketaatan mereka menjalankan perintah Allah. Mereka lebih takut kepada Allah SWT daripada kepada makhluk.
Dari cerita diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sesuatu yang kita takuti didunia ini itu semua tidak akan berdampak apa-apa tuk kehidupan kita tapi Takutlah kepada Allah karena dengan itu akan membuat setiap langkah kita selalu terarah menuju kejalan-Nya.
Demikian halnya dengan takut umat Islam ditimpa bahaya. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat mengkhawatirkan umatnya ditimpa marabahaya. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian tetapi aku khawatir kalau-kalau keka¬yaan dunia ini dihamparkan atas kalian sebagaimana yang pernah dihamparkan atas orang-orang sebelum kalian. Lantas, kalian akan berlomba-lomba pada kekayaan sebagaimana mereka dulu berlomba-lomba pada keka¬yaan. Kemudian, kekayaan itu akan membinasakan kalian sebagaimana kekayaan itu membi¬nasakan mereka.” Inilah teladan dari Rasulullah SAW.
Karenanya, wajar bila setiap muslim merasa khawatir terhadap persekongkolan penguasa munafik-negara kafir imperialis, kebebasan pers yang semakin memerosokkan generasi umat ke jurang kemaksiatan, kristenisasi yang terus menggerus keimanan, perusahaan-perusahaan asing yang terus menguras kekayaan, perjanjian-perjanjian militer antara negeri muslim dengan negara besar kafir yang justru menjadi jalan untuk menekan kaum muslim, pembantaian Israel terhadap kaum muslim di Palestina, renca¬na penggempuran imperialis AS terhadap muslim dan negeri Islam Afghanistan, dan setumpuk bahaya lain. Kekhawatiran itu akan mendorong kaum muslim untuk senantiasa waspada ter¬hadap hal-hal yang membahayakan mereka, disamping terus-menerus berupaya mengatasi nya.
Takut Pada Allah SWT Pemacu Keberanian
Suatu waktu Abu Uma¬mah Shuday bin ‘Ajlan Al Bahiliy ra.menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah melebihi dua tetes dan dua bekas, yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang menetes sewaktu berjuang pada jalan Allah. Adapun dua bekas yaitu bekas (luka) sewaktu berjuang di jalan Allah dan bekas dari menjalankan salah satu kewajiban Allah Ta’ala.” Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Turmudzi tersebut nampak bahwa Allah SWT mense¬jajarkan antara takut kepada Allah SWT dengan jihad di jalan Allah SWT. Ini menunjukkan be¬tapa rasa takut kepada Allah Dzat Maha Perkasa tersebut memiliki kedudukan yang demi¬kian tinggi.
Saking pentingnya takut kepada Allah tersebut, Rasulullah SAW menyatakan : “Seseo¬rang yang menangis karena takut kepada Allah itu tidak akan masuk neraka hingga air susu itu kembali ke dalam tetek. Dan debu yang menempel karena berjuang pada jalan Allah itu tidak akan bisa berkumpul de¬ngan asap neraka jahannam”(HR.At Turmudzi). Terang sekali, balasan mereka yang takut kepada Allah SWT itu adalah tidak akan pernah masuk neraka. Adanya pernyataan kemustahilan (masuknya kembali air susu ibu kedalam tetek ibu, atau susu sapi kedalam tetek sapi) menegaskan hal tersebut. Al Quran sendiri banyak memerintahkan manusia untuk takut kepada Allah SWT. Misalnya, firman Allah Dzat Maha Gagah tentang dorongan bagi kaum muslimin untuk tidak gen¬tar terhadap musuh terdapat dalam surat Ali ‘Imrân [3] ayat 175. Bahasa Indonesianya : “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu ja¬nganlah kalian takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman.”
Sementara itu realisasi dari sikap takut kepada Allah SWT tersebut adalah tunduk dan patuh kepada-Nya. Berkaitan dengan konteks ini, Al Quran menggambarkan:
“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti engkau akan melihatnya tunduk terpecah belah (khâsyi’an mutashaddi’an) disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya berfikir” (TQS. Al Hasyr [59] : 21). Seorang muslim yang takut kepada Allah SWT akan senantiasa membandingkan takut kepada selain Allah SWT dengan takut kepada-Nya. Dan, dia lebih takut kepada-Nya. Bukan seperti orang munafik yang takut kepada manusia sama dengan takutnya kepada Allah Rabbul ‘Alamîn, atau melebihinya. “Tidakkah eng¬kau perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka : ‘Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!’ Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. Mereka berkata : ‘Ya, Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan ber¬perang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan hal itu kepada kami beberapa waktu lagi?‘..” begitulah firman-Nya dalam surat An Nisâ [4] ayat 77.
Karena itu, seorang muslim yang sadar akan senantiasa lebih takut kepada Allah SWT daripada kepada yang lain. Caranya, lebih mengutamakan perintah Allah Dzat Maha Perkasa. Tidaklah mengherankan apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Saat berhijrah, mereka harus meninggalkan harta kekayaan, anak saudara, bahkan kampung halaman tercinta. Perjalanan yang harus dilaluinya pun bukanlah daerah yang aman, melainkan penuh dengan tindak perampokan dan kejahatan lainnya. Jarak yang harus ditempuhnya pun bukan satu-dua hari. Sengatan terik matahari, dinginnya malam, dan tiupan angin kencang pembawa pasir menanti di perjalanan. Sementara itu, orang-orang kafir Quraisy siap mengejar dari belakang. Wajar, andai saja para sahabat (laki-laki dan perempuan) dan anak-anaknya merasakan takut. Mereka adalah manusia biasa seperti kita. Namun, semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan ketaatan mereka menjalankan perintah Allah. Mereka lebih takut kepada Allah SWT daripada kepada makhluk.
Dari cerita diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa sesuatu yang kita takuti didunia ini itu semua tidak akan berdampak apa-apa tuk kehidupan kita tapi Takutlah kepada Allah karena dengan itu akan membuat setiap langkah kita selalu terarah menuju kejalan-Nya.
